
Menjadi yang Terbesar
Salah satu kata-kata hikmat yang saya masih ingat dari orangtua saya dalam masa kecil saya adalah bahwa setiap padi selalu ada ‘lapung’-nya. Lapung itu adalah butiran padi yang kosong, tidak berisi.
Umumnya istilah itu dipakai menggambarkan anak yang menjadi “trouble maker” di satu keluarga. Mungkin ini yang paling bandel, yang paling tidak berprestasi, atau yang membikin malu keluarga.
Dan dalam satu keluarga yang bagus ada saja seseorang yang kurang bagus, baik karakter mau pun kompetensinya.
Ketika Nehemia membangun tembok, orang Israel siap untuk membantu dan segera membanting tulang. Tetapi seperti tadi, selalu ada ‘lapung’-nya.
Di samping mereka, orang-orang Tekoa mengadakan perbaikan. Namun para pemuka mereka tidak menyediakan bahu mereka bagi pekerjaan Tuhan mereka. Nehemia 3:5
Kata “Tuhan” itu adalah “adonai”, dalam bahasa Ibrani yang berarti “tuan” yang dapat dialamatkan kepada Allah dan manusia. Sehingga terjadi variasi penerjemahan ayat di atas, sebagian berpikir yang dimaksud adalah Nehemia atau para pemimpin mereka.
Tetapi sebagian lebih setuju itu adalah Allah, termasuk Terjemahan Literal Indonesia, darimana ayat di atas dikutip.
Terlepas dari tafsir mana yang kamu pegang, tidak mengubahkan kenyataan yang mau dibahas. Faktanya adalah bahwa para pemuka dan orang-orang terhormat ini merasa tidak patut melakukan pekerjaan kasar. Mereka tidak mau turut bekerja.
Ahh, saya tahu betul orang-orang seperti ini. Dan mereka itu ada di mana-mana. Mereka menjadi duri dalam daging, sangat mengganggu. Tetapi sebenarnya ada dua pilihan untuk menghadapi mereka: konfrontasi atau buat mereka yang frustasi.
Kalau kamu yang konfrontasi, kamu ada kemungkinan menjadi frustasi. Menasehati orang yang hanya bisa mendengar diri mereka sendiri itu seperti membenturkan diri sendiri ke tembok. Tak ada yang bergeming kecuali kamu yang berdarah-darah.
Sampai hari inipun, bahkan dalam kalangan elit gereja, ada orang-orang yang seperti itu. Mereka tidak tampak seperti Yesus yang sangat bersahaja dan sederhana. Mereka membangun citra wibawa mereka sendiri. Mencuri kemuliaan tertinggi yang seharusnya diberikan kepada Yesus Kristus.
Pemuka orang Tekoa itu hanya menyandang gelar sebagai pemuka. Tetapi sikap dan pengaruh mereka tidak terkemuka. Mereka pembesar tetapi punya ‘attitude’ yang sangat kerdil. Karena itu posisi kamu tidak menjamin kebesaranmu.
-
Seperti apakah kemuliaan dalam pemandanganmu?
Kebesaran sejati bukan dalam balutan pakaian mahal dan singgasana di rumah mewah. Kemuliaan Mother Theresa ada di tempat kumuh. Kemuliaan Tuhan Yesus ada di kayu salib. Kemuliaan Simon Petrus adalah dengan disalib terbalik hingga mati.
Kebesaran Paulus adalah melupakan segala yang dikejarnya lalu menganggap semuanya sebagai kotoran. Apakah paham kebesaran kamu lebih mirip paham dunia atau paham Kristus?
-
Kamu lebih memilih pesona atau pengaruh?
Kamu hanya mempesonakan manusia dengan kemewahan kamu tetapi kamu mempengaruhi mereka dalam kesederhanaan. Kamu lebih ingin menjadi pesona atau pengaruh?
Dan Sorga sama sekali tidak silau atau berdecak kagum dengan semua kemewahan kamu. Emas yang kamu nilai sangat berhaga di sana hanya dipakai untuk menjadi trotoar. Sorga lebih ingin kamu memiliki karakter yang memberi pengaruh daripada silau pesona kamu.
-
Merendah adalah cara untuk menjadi yang terbesar dalam Kristus
Singsingkan lengan dan siaplah untuk memberi di manapun, demikianlah kita semakin mirip Kristus. Hari ini, adakah satu hal rendahan yang dapat kita lakukan untuk sesama?
SIAPA MENINGGIKAN DIRI AKAN DIRENDAHKAN, YANG MERENDAH AKAN DITINGGIKAN – Lukas 14:11
togarsianturi
30 Jan 2026
Banyak orang percaya bergumul dengan pertanyaan yang sangat menyakitkan: “Mengapa Tuhan tidak menjawab doa saya?” Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, berpuasa, bahkan mungkin menangis di hadapan-Nya, namun jawaban yang dinanti tak kunjung tiba. Rasa kecewa, ragu, bahkan marah bisa menyelinap masuk dan mengikis iman kita. Apakah Tuhan tidak mendengar? Apakah Ia tidak peduli? Atau adakah …
togarsianturi
29 Jan 2026
Ada momen dalam hidup di mana kata-kata “aku tidak sanggup lagi” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan jujur dari jiwa yang sudah melampaui batas kekuatannya. Kelelahan batin sering kali mendistorsi cara kita melihat diri sendiri, masa depan, dan bahkan cara kita memandang kasih Tuhan. Kita merasa kosong, hampa, dan kehilangan identitas, persis seperti yang dialami oleh …
togarsianturi
28 Jan 2026
Banyak orang Kristen menyimpan rahasia kecil di dalam hati mereka: mereka sering membuka Alkitab dengan harapan besar, namun menutupnya kembali dengan rasa bingung dan kecewa. Masalahnya bukan karena Anda kurang pintar atau kurang rohani, melainkan karena kebanyakan dari kita tidak pernah diajarkan “cetak biru” cara mempelajarinya dengan benar. Alkitab bukanlah buku yang sekadar untuk dibaca …
togarsianturi
27 Jan 2026
Banyak orang Kristen berdoa meminta perubahan hidup tetapi tetap melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa ada kemajuan. Kita sering kali menunggu “tongkat ajaib” Tuhan bekerja sementara kita sendiri terjebak dalam keluhan dan keputusasaan yang melelahkan. Padahal, Tuhan sering kali bekerja melalui ketaatan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten di dalam iman. Mari kita …
togarsianturi
26 Jan 2026
Banyak pria Kristen mengawali minggu dengan semangat membara untuk lebih dekat dengan Tuhan, namun sering kali layu di tengah jalan karena kesibukan. Rasa bersalah muncul saat kita melewatkan satu hari, dan akhirnya kita menyerah sama sekali karena merasa tidak akan pernah bisa konsisten. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kasih kita kepada Tuhan, melainkan kurangnya sistem yang …
togarsianturi
25 Jan 2026
Kita semua memulai perjalanan iman sebagai bayi rohani yang hanya fokus pada kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri. Namun, tujuan Tuhan bagi setiap kita adalah untuk bertumbuh, matang, dan menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Kedewasaan rohani bukanlah tentang berapa lama Anda sudah menjadi Kristen, melainkan tentang transformasi hati yang menghasilkan buah-buah Roh yang …
31 Oct 2018 1.723 views
Kita memiliki empat Injil dalam Perjanjian Baru, Allah dengan sengaja memasukkannya ke dalam Kitab kanonik kita, yakni: 1. Matius 2. Markus 3. Lukas 4. Yohanes Injil Sinoptik Tiga dari empat Injil itu disebut sinoptik: Matius, Markus, Lukas. Sinoptik berasal dari dua kata, sin = sama, optic = cara pandang. Artinya ketiga Injil ini melihat …
29 Mar 2019 1.562 views
Inilah damai sejahtera yang sejati itu, yakni bahwa sang Raja Damai datang mendamaikan manusia berdosa, yang dulu adalah seteru Allah sehingga kini menjadi sekutu. Jadi damai sejahtera terutama kaitannya bukan dengan suasana atau perasaan, melainkan dengan penebusan dan pemulihan hubungan (rekonsiliasi). Dengan dosa, kita memberontak dan memusuhi Allah, kita hidup jauh dariNya. Maka satu-satunya …
19 Oct 2018 1.465 views
Tidak akan ada damai di antara negara, jika tidak ada damai di negara, tidak ada damai dalam negara jika tidak ada damai dalam orang-orangnya, tidak ada damai dalam orang-orang jika orang-orang tidak menyerahkan hidupnya ke tangan si Raja Damai. Benar sekali apa yang Heyden Robinson, penulis buku Salt And Light, ungkapkan dalam kutipan di atas. …
24 Jul 2019 1.362 views
Seorang teman yang berdagang di pasar pernah berkata begini kepada saya, “Saya mana bisa untung kalau jujur-jujur!” Benar-benar kalimat yang membuat saya tercenung. Sebegitu kelam-kah sistem perdagangan sehingga cara untuk sukses adalah dengan berbuat dosa? Tidakkah kita bisa saling menguntungkan dengan cara yang jujur? Begitu juga pembeli berbuat munafik ketika menawar barang, ia menekan …
17 Jul 2019 1.303 views
Menurut tradisi rabinik Yahudi (Babylonian Talmud) Amos, ayah Yesaya, adalah anak dari raja Yoas dan saudara dari raja Amazia. Sedangkan dalam Alkitab jelas raja Uzia adalah anak Amazia dan cucu dari raja Yoas. Jika benar demikian maka Yesaya adalah sepupu raja Uzia, hal ini menjelaskan mengapa Yesaya bebas berada di istana raja dan sangat fasih …
27 Jun 2019 1.254 views
Amsal banyak membantu orang percaya mengerti sifat alami dari godaan dan tipu muslihat dosa. Termasuk bagaimana sang Penulis mempersonifikasikan godaan dunia ini sebagai seorang perempuan jalang. Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, 4 tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. …
28 Nov 2020 1.173 views
Usai pembicaraan poin sebelumnya dengan oppung, saya memastikan lagi apakah oppung dapat memahami pembicaraan kami atau ada yang hendak ditanyakan. Oppung menceritakan perasaan sukacitanya dengan pemahaman itu dan tidak ada pertanyaan. Lalu saya bertanya siapakah Yesus itu dalam iman oppung sekarang. Oppung yakin bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat baginya. Karena itu saya tuntun …
Comments are not available at the moment.