Home » Bible » Devotionals » INJIL UNTUK OPPUNG Part 3 Percaya

INJIL UNTUK OPPUNG Part 3 Percaya

togarsianturi 27 Nov 2020 439

 

Sekarang kita masuk ke poin kedua, percaya. Sebenarnya ini adalah konsekuensi logis dan alami dari poin pertama. Apabila kita mengenal sejatinya siapa Yesus, tentu kita akan memercayaiNya. Tetapi karena kita manusia yang kerap gagal paham terminologi tertentu, biasanya juga karena ada kata-kata yang mengalami reduksi makna seiring berjalannya waktu, sehingga kita perlu mendefinisikan ulang kata “percaya” itu.

Faktanya adalah apa yang rasul Yohanes sebutkan:

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (Yohanes 1:10-11)

Perhatikan bagaimana rasul Yohanes menghubungkan mengenal Yesus (ayat 10) dengan menerima Yesus (ayat 11). Orang yang tidak mengenal Yesus dengan benar tidak mungkin bisa menerima dan percaya padaNya dalam pengertian yang sesunggguhnya.

Kita bisa melihat contoh kepercayaan yang dicatat di sepanjang Perjanjian Baru, beraneka ragam posisi dan latarbelakang mereka yang percaya, tetapi buah dari kepercayaan mereka selalu adalah sukacita dan pemberian diri. Sebagian dari mereka hanya bertemu dengan bayi Yesus yang bahkan belum berkata dan berbuat apa-apa, seperti Simeon dan Hana. Sebagian lagi adalah mereka yang memang mendapat keistimewaan untuk mendampingi Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun, seperti Petrus dan Yohanes. Sebagian lagi adalah orang yang hanya menerima penglihatan akan Kristus Yesus, seperti Paulus. Bahkan ada orang yang hanya mendengar ajaran tentang Tuhan Yesus, seperti sida-sida dari Etiopia serta banyak jemaat-jemaat lainnya. Tetapi sekali mereka mengenal Tuhan Yesus, mereka tidak bisa menolakNya dan tidak bisa lepas dariNya.

Arti kata percaya sendiri dapat dibagi, setidaknya, kepada tiga pengertian berikut:

1. Percaya bahwa (menerima)

Ini adalah tingkat percaya yang terendah. Ini lebih kepada mengakui dan menerima fakta atau doktrin, menyetujui kebenaran. Inilah yang disebutkan dalam Yakobus 2:19, kalau kita percaya dan setuju bahwa Allah ada, setan juga percaya. Banyak orang bertengger di level ini, tetapi setan juga ada dalam gerombolan ini. Tentu saja di sini tidak ada keselamatan.

2. Percaya pada (melakukan)

Ini berarti melakukan kebenaran yang kita percaya. Setan sudah tidak masuk ke level ini, sayangnya banyak yang beragama Kristen bahkan turut tersaring juga tidak masuk ke level ini. Setan mengangkat dirinya sendiri tuan, karena itu ia tidak mungkin berserah dan melakukan kehendak Allah. Demikian jugalah dengan manusia-manusia yang mengaku percaya kepada Allah tetapi tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah, mereka tidak melakukan apa yang mereka percayai. Anda percaya bahwa saya adalah Togar Sianturi, tetapi belum tentu Anda percaya pada saya. Sebab jika Anda percaya pada saya maka apapun yang saya beritahu akan Anda lakukan.

Kita menerima ajaran untuk mengampuni, contohnya, semua kita mengetahui hanya yang mengampuni yang akan diampuni, akan tetapi hanya orang yang melakukan pengampunan itulah yang masuk ke level ini. Beberapa tahun lalu saya, di Manado, untuk pertama kalinya mendengar lagu sekolah Minggu, “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh..” Ternyata itu sudah diajarkan dari Sekolah Minggu, lalu mengapa orang-orang dewasa yang saya layani jarang sekali melakukannya? Mereka menerima, tetapi mereka tidak melakukannya.

3. Percaya senantiasa (mempertahankan)

Percaya dengan setia sebenarnya berasal dari kata yang sama. Hal itu jelas dalam bahasa Yunani, juga bahasa Inggeris (“faith” = iman dan “faithful” = setia). Dan bentuk kata kerja “percaya” dalam Injil Yohanes dan kitab lain adalah ‘Present Continuous Tense’ (sesuatu yang sedang terus terjadi). Jadi kata percaya itu, jika diterjemahkan sesuai bentuk waktu kata kerjanya adalah: go on believing (terus memercayai), bukan hanya believe (percaya).

Jadi percaya itu bukan peristiwa satu kali, melainkan sesuatu yang mesti kita pertahankan sampai kepada akhirnya. Intinya iman kita tahun lalu tidak menyelamatkan kita hari ini, kita mesti mempertahankan iman itu senantiasa. Keselamatan kita bermula ketika kita pertama kali percaya pada Tuhan Yesus, kita melakukan apa yang Dia perintahkan. Tetapi keselamatan itu menjadi penuh apabila kita tetap setia melakukan apa yang Tuhan perintahkan hingga akhirnya.

Lalu apa yang orang percaya lakukan?

Pertama, jika ingin melihat contohan orang yang tidak percaya adalah orang-rang Farisi dan ahli Taurat secara umum. Tuan mereka adalah diri mereka sendiri, mereka tidak sungguh-sungguh mengasihi Allah di atas segala-galanya. Mereka menggeluti firman Allah, menghafalnya dengan luar biasa, namun mereka tidak terhubung dengan Allah, mereka tidak taat. Jika melakukan saja ternyata tidak, mana mungkin mereka bisa berada di level 3 tadi. Mereka ini adalah orang-orang level 1.

“Ikutlah Aku!”

Ini mengapa setiap kali Tuhan Yesus memanggil orang menjadi muridNya, maka hanya 2 kata ini yang Tuhan Yesus pakai: “Ikutlah Aku!” Dan itulah yang orang percaya lakukan; mengikuti teladan Tuhan Yesus, apa yang Tuhan Yesus lakukan itulah yang mereka lakukan. Pikiran, perasaan, kehendak serta keingian mereka masih ada, tetapi bukan lagi itu yang memimpin mereka. Pikiran dan perasaan yang ada pada Kristus, itulah yang memenuhi mereka (Filipi 2:5).

Ini adalah apa yang Tuhan Yesus firmankan kepada orang-orang yang percaya padaNya dan mau menjadi pengikutNya:

 ”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Lukas 14:26)

Hampir sembilan puluh persen orang yang saya minta menjelaskan ayat ini, setelah membacanya,  mengatakan bahwa kita harus menjadi pribadi yang mengasihi bila ingin menjadi murid Yesus. Setelah saya minta mereka membaca lagi lebih teliti, biasanya raut wajah mereka berubah. Benar, Tuhan Yesus mengatakan kalau seseorang ingin menjadi muridNya maka orang itu harus membenci semua orang terdekatnya, orang-orang terpenting dalam hidupnya bahkan nyawanya sendiri. Artinya adalah kalau mau menjadi murid Yesus maka kita harus menjadikan Tuhan Yesus satu-satunya Tuan yang memerintah atas hidup kita. Semua yang Tuhan Yesus sebutkan dalam nats di atas dari ayah hingga nyawa sendiri adalah tuan bagi kita selama ini. Sekarang mereka seperti kita benci karena tiba-tiba sekarang kita sangat meninggikan Yesus menjadi Tuan atas seluruh hidup kita. Yesuslah yang mengatur seluruh hidup kita.

Hanya 2 lembar berikutnya Tuhan Yesus menegaskan lagi:

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13)

Kita tidak bisa mengabdi kepada tuan. Demikian juga kita tidak bisa membuat orangtua dan semua orang-orang yang penting dalam hidup kita menjadi tuan bagi hidup kita di saat yang bersamaan mengaku kita percaya pada Yesus. Kita mesti memilih. Saya sendiri sudah merasakan hanya ketika Yesus menjadi satu-satunya Tuan dalam hidup saya, barulah saya bisa mengasihi orangtua saya dan semua orang lain terdekat saya dengan benar. Sebelum saya menjadi murid Yesus, saya sangat mengasihi orangtua saya, tapi pada kenyataannya saya masih mencuri dari mereka, menipu mereka. Namun karena Yesus menjadi Tuan saya dan saya mesti menaatiNya; Dia tidak mengijinkan saya melakukannya lagi. Malah Dia memberitahu saya bagaimana saya mesti bersikap yang benar terhadap mereka. Begitulah dalam segala aspek hidup saya dan dalam setiap hubungan saya dengan siapapun juga, Tuhan Yesus mengatur semuanya.

Inilah makna dari percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi perbuatan dan kesetiaan. Mereka itu mengenal dan menerima Tuhan Yesus dalam hidup mereka, mereka senantiasa melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Kabar baiknya, kepada mereka itu dikaruniakan hak istimewa yang sangat besar, yakni menjadi anak-anak Allah.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (Yohanes 1:12-13)

Oppung mengangguk dengan senyum manis di wajahnya. Beliau tampak sangat puas sebab banyak pertanyaan hatinya terjawab. Kemudian beliau membuat asosiasi, menjalin hubungan-hubungan dari satu hal kepada hal lain yang beliau ketahui selama ini. Oppung selama ini tidak bisa benar-benar memahami sebab ternyata masih banyak orang-orang yang bergereja tapi sesungguhnya belum percaya. Tetapi bukan itu soal yang peting buat oppung, yang penting adalah bagaimana dalam hidupnya pun Yesus Kristus menjadi Tuan satu-satunya. Beliau melihat itulah yang mengubahkan hidup dan yang akan membawa kepada kekekalan.

Sekali lagi beliau melihat bahwa semua hal yang beliau telah belajar selama ini ternyata adalah jembatan yang Tuhan bangun selama puluhan tahun untuk membawa beliau kepada kabar baik yang sepenuhnya, Injil Yesus Kristus. Kedua hal itu perlu dipertentangkan. Beliau membayangkan betapa dahsyat dan ajaibnya hidup orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Dari sharing dan ekspresi wajahnya berbicara betapa luar biasanya hikmat Allah dan dahsyat sekali rencanaNya bagi semua orang yang mau menjadi anakNya, mereka yang mau percaya pada Anak TunggalNya. Terlebih lagi semua itu ternyata sudah dituliskan dalam firmanNya sejak zaman dahulu kala. Terpujilah Allah kita senantiasa. Amen.

 

(bersambung ke part 4)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Related post
Anda Bukan Gagal—Anda Baru Mulai

togarsianturi

17 Jan 2026

Anda Bukan Gagal—Anda Baru Mulai Ketika Timeline Orang Lain Terlihat Lebih Cerah Akhir tahun sering terasa kejam bagi banyak orang. Media sosial mendadak dipenuhi parade pencapaian dan perayaan. Ada yang naik jabatan, membeli rumah, atau liburan ke luar negeri. Semua tampak bergerak maju dengan cepat. Sementara Anda mungkin masih di titik yang sama. Tabungan tidak …

Simpan Dendam Itu Seperti Minum Racun

togarsianturi

16 Jan 2026

Simpan Dendam Itu Seperti Minum Racun Racun yang Kita Teguk Setiap Hari Ada sebuah kutipan terkenal yang sering dikaitkan dengan Nelson Mandela. “Resentment is like drinking poison and then hoping it will kill your enemies.” Ungkapan ini terdengar konyol, tetapi sangat realistis. Setiap hari, jutaan orang meneguk racun yang sama. Mereka marah pada mantan pasangan, …

Gak Enakan Sama Teman Kantor? Ini Cara Bilang “Tidak”

togarsianturi

15 Jan 2026

    Gak Enakan Sama Teman Kantor? Ini Cara Bilang “Tidak”   Pendahuluan: Ketika Kebaikan Berubah Menjadi Beban Di hampir setiap kantor, selalu ada satu sosok yang dikenal sebagai “Yes Man”. Orang ini paling sulit mengucapkan kata tidak kepada siapa pun. Diminta lembur menggantikan rekan, ia mengangguk. Diminta mengerjakan tugas di luar tanggung jawabnya, ia …

Lelah Mental? Coba Detoks Digital 24 Jam

togarsianturi

14 Jan 2026

Lelah Mental? Coba Detoks Digital 24 Jam   Ketika Pagi Hari Tidak Lagi Dimulai dengan Kesadaran Jujur saja, apa hal pertama yang Anda sentuh saat membuka mata setiap pagi. Apakah tangan pasangan, atau justru layar smartphone yang selalu setia menunggu. Banyak orang memulai hari bukan dengan doa atau kesadaran, melainkan notifikasi. Tanpa disadari, hari sudah …

Jangan Masuk Tahun Baru dengan Hidup yang Sama

togarsianturi

13 Jan 2026

Jangan Masuk Tahun Baru dengan Hidup yang Sama Akhir Tahun Adalah Cermin, Bukan Sekadar Perayaan Rasanya baru kemarin kita menyambut tahun baru dengan penuh harapan dan target besar. Kini Desember kembali hadir tanpa aba-aba, membawa kesadaran bahwa waktu bergerak sangat cepat. Kesibukan kerja dan tuntutan hidup sering membuat kita lupa berhenti sejenak. Padahal, hidup yang …

Keuangan Diberkati! Terapkan 8 Kebiasaan Alkitabiah Ini Sekarang

togarsianturi

11 Jan 2026

       Ingin merdeka secara finansial? Simak prinsip Alkitabiah dalam mengelola uang sebagai alat dan ujian iman. Uang sering kali menjadi subjek yang sangat sensitif bagi banyak pria karena ia sangat berkaitan erat dengan rasa aman dan harga diri kita. Namun, Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa uang bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk melayani …