Home » Bible » Devotionals » INJIL UNTUK OPPUNG Part 3 Percaya

INJIL UNTUK OPPUNG Part 3 Percaya

togarsianturi 27 Nov 2020 677

 

Sekarang kita masuk ke poin kedua, percaya. Sebenarnya ini adalah konsekuensi logis dan alami dari poin pertama. Apabila kita mengenal sejatinya siapa Yesus, tentu kita akan memercayaiNya. Tetapi karena kita manusia yang kerap gagal paham terminologi tertentu, biasanya juga karena ada kata-kata yang mengalami reduksi makna seiring berjalannya waktu, sehingga kita perlu mendefinisikan ulang kata “percaya” itu.

Faktanya adalah apa yang rasul Yohanes sebutkan:

Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. 11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. (Yohanes 1:10-11)

Perhatikan bagaimana rasul Yohanes menghubungkan mengenal Yesus (ayat 10) dengan menerima Yesus (ayat 11). Orang yang tidak mengenal Yesus dengan benar tidak mungkin bisa menerima dan percaya padaNya dalam pengertian yang sesunggguhnya.

Kita bisa melihat contoh kepercayaan yang dicatat di sepanjang Perjanjian Baru, beraneka ragam posisi dan latarbelakang mereka yang percaya, tetapi buah dari kepercayaan mereka selalu adalah sukacita dan pemberian diri. Sebagian dari mereka hanya bertemu dengan bayi Yesus yang bahkan belum berkata dan berbuat apa-apa, seperti Simeon dan Hana. Sebagian lagi adalah mereka yang memang mendapat keistimewaan untuk mendampingi Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun, seperti Petrus dan Yohanes. Sebagian lagi adalah orang yang hanya menerima penglihatan akan Kristus Yesus, seperti Paulus. Bahkan ada orang yang hanya mendengar ajaran tentang Tuhan Yesus, seperti sida-sida dari Etiopia serta banyak jemaat-jemaat lainnya. Tetapi sekali mereka mengenal Tuhan Yesus, mereka tidak bisa menolakNya dan tidak bisa lepas dariNya.

Arti kata percaya sendiri dapat dibagi, setidaknya, kepada tiga pengertian berikut:

1. Percaya bahwa (menerima)

Ini adalah tingkat percaya yang terendah. Ini lebih kepada mengakui dan menerima fakta atau doktrin, menyetujui kebenaran. Inilah yang disebutkan dalam Yakobus 2:19, kalau kita percaya dan setuju bahwa Allah ada, setan juga percaya. Banyak orang bertengger di level ini, tetapi setan juga ada dalam gerombolan ini. Tentu saja di sini tidak ada keselamatan.

2. Percaya pada (melakukan)

Ini berarti melakukan kebenaran yang kita percaya. Setan sudah tidak masuk ke level ini, sayangnya banyak yang beragama Kristen bahkan turut tersaring juga tidak masuk ke level ini. Setan mengangkat dirinya sendiri tuan, karena itu ia tidak mungkin berserah dan melakukan kehendak Allah. Demikian jugalah dengan manusia-manusia yang mengaku percaya kepada Allah tetapi tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah, mereka tidak melakukan apa yang mereka percayai. Anda percaya bahwa saya adalah Togar Sianturi, tetapi belum tentu Anda percaya pada saya. Sebab jika Anda percaya pada saya maka apapun yang saya beritahu akan Anda lakukan.

Kita menerima ajaran untuk mengampuni, contohnya, semua kita mengetahui hanya yang mengampuni yang akan diampuni, akan tetapi hanya orang yang melakukan pengampunan itulah yang masuk ke level ini. Beberapa tahun lalu saya, di Manado, untuk pertama kalinya mendengar lagu sekolah Minggu, “Baca kitab suci, doa tiap hari, kalau mau tumbuh..” Ternyata itu sudah diajarkan dari Sekolah Minggu, lalu mengapa orang-orang dewasa yang saya layani jarang sekali melakukannya? Mereka menerima, tetapi mereka tidak melakukannya.

3. Percaya senantiasa (mempertahankan)

Percaya dengan setia sebenarnya berasal dari kata yang sama. Hal itu jelas dalam bahasa Yunani, juga bahasa Inggeris (“faith” = iman dan “faithful” = setia). Dan bentuk kata kerja “percaya” dalam Injil Yohanes dan kitab lain adalah ‘Present Continuous Tense’ (sesuatu yang sedang terus terjadi). Jadi kata percaya itu, jika diterjemahkan sesuai bentuk waktu kata kerjanya adalah: go on believing (terus memercayai), bukan hanya believe (percaya).

Jadi percaya itu bukan peristiwa satu kali, melainkan sesuatu yang mesti kita pertahankan sampai kepada akhirnya. Intinya iman kita tahun lalu tidak menyelamatkan kita hari ini, kita mesti mempertahankan iman itu senantiasa. Keselamatan kita bermula ketika kita pertama kali percaya pada Tuhan Yesus, kita melakukan apa yang Dia perintahkan. Tetapi keselamatan itu menjadi penuh apabila kita tetap setia melakukan apa yang Tuhan perintahkan hingga akhirnya.

Lalu apa yang orang percaya lakukan?

Pertama, jika ingin melihat contohan orang yang tidak percaya adalah orang-rang Farisi dan ahli Taurat secara umum. Tuan mereka adalah diri mereka sendiri, mereka tidak sungguh-sungguh mengasihi Allah di atas segala-galanya. Mereka menggeluti firman Allah, menghafalnya dengan luar biasa, namun mereka tidak terhubung dengan Allah, mereka tidak taat. Jika melakukan saja ternyata tidak, mana mungkin mereka bisa berada di level 3 tadi. Mereka ini adalah orang-orang level 1.

“Ikutlah Aku!”

Ini mengapa setiap kali Tuhan Yesus memanggil orang menjadi muridNya, maka hanya 2 kata ini yang Tuhan Yesus pakai: “Ikutlah Aku!” Dan itulah yang orang percaya lakukan; mengikuti teladan Tuhan Yesus, apa yang Tuhan Yesus lakukan itulah yang mereka lakukan. Pikiran, perasaan, kehendak serta keingian mereka masih ada, tetapi bukan lagi itu yang memimpin mereka. Pikiran dan perasaan yang ada pada Kristus, itulah yang memenuhi mereka (Filipi 2:5).

Ini adalah apa yang Tuhan Yesus firmankan kepada orang-orang yang percaya padaNya dan mau menjadi pengikutNya:

 ”Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. (Lukas 14:26)

Hampir sembilan puluh persen orang yang saya minta menjelaskan ayat ini, setelah membacanya,  mengatakan bahwa kita harus menjadi pribadi yang mengasihi bila ingin menjadi murid Yesus. Setelah saya minta mereka membaca lagi lebih teliti, biasanya raut wajah mereka berubah. Benar, Tuhan Yesus mengatakan kalau seseorang ingin menjadi muridNya maka orang itu harus membenci semua orang terdekatnya, orang-orang terpenting dalam hidupnya bahkan nyawanya sendiri. Artinya adalah kalau mau menjadi murid Yesus maka kita harus menjadikan Tuhan Yesus satu-satunya Tuan yang memerintah atas hidup kita. Semua yang Tuhan Yesus sebutkan dalam nats di atas dari ayah hingga nyawa sendiri adalah tuan bagi kita selama ini. Sekarang mereka seperti kita benci karena tiba-tiba sekarang kita sangat meninggikan Yesus menjadi Tuan atas seluruh hidup kita. Yesuslah yang mengatur seluruh hidup kita.

Hanya 2 lembar berikutnya Tuhan Yesus menegaskan lagi:

Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Lukas 16:13)

Kita tidak bisa mengabdi kepada tuan. Demikian juga kita tidak bisa membuat orangtua dan semua orang-orang yang penting dalam hidup kita menjadi tuan bagi hidup kita di saat yang bersamaan mengaku kita percaya pada Yesus. Kita mesti memilih. Saya sendiri sudah merasakan hanya ketika Yesus menjadi satu-satunya Tuan dalam hidup saya, barulah saya bisa mengasihi orangtua saya dan semua orang lain terdekat saya dengan benar. Sebelum saya menjadi murid Yesus, saya sangat mengasihi orangtua saya, tapi pada kenyataannya saya masih mencuri dari mereka, menipu mereka. Namun karena Yesus menjadi Tuan saya dan saya mesti menaatiNya; Dia tidak mengijinkan saya melakukannya lagi. Malah Dia memberitahu saya bagaimana saya mesti bersikap yang benar terhadap mereka. Begitulah dalam segala aspek hidup saya dan dalam setiap hubungan saya dengan siapapun juga, Tuhan Yesus mengatur semuanya.

Inilah makna dari percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya bukan hanya sekedar kata-kata, tetapi perbuatan dan kesetiaan. Mereka itu mengenal dan menerima Tuhan Yesus dalam hidup mereka, mereka senantiasa melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Kabar baiknya, kepada mereka itu dikaruniakan hak istimewa yang sangat besar, yakni menjadi anak-anak Allah.

Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. (Yohanes 1:12-13)

Oppung mengangguk dengan senyum manis di wajahnya. Beliau tampak sangat puas sebab banyak pertanyaan hatinya terjawab. Kemudian beliau membuat asosiasi, menjalin hubungan-hubungan dari satu hal kepada hal lain yang beliau ketahui selama ini. Oppung selama ini tidak bisa benar-benar memahami sebab ternyata masih banyak orang-orang yang bergereja tapi sesungguhnya belum percaya. Tetapi bukan itu soal yang peting buat oppung, yang penting adalah bagaimana dalam hidupnya pun Yesus Kristus menjadi Tuan satu-satunya. Beliau melihat itulah yang mengubahkan hidup dan yang akan membawa kepada kekekalan.

Sekali lagi beliau melihat bahwa semua hal yang beliau telah belajar selama ini ternyata adalah jembatan yang Tuhan bangun selama puluhan tahun untuk membawa beliau kepada kabar baik yang sepenuhnya, Injil Yesus Kristus. Kedua hal itu perlu dipertentangkan. Beliau membayangkan betapa dahsyat dan ajaibnya hidup orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Dari sharing dan ekspresi wajahnya berbicara betapa luar biasanya hikmat Allah dan dahsyat sekali rencanaNya bagi semua orang yang mau menjadi anakNya, mereka yang mau percaya pada Anak TunggalNya. Terlebih lagi semua itu ternyata sudah dituliskan dalam firmanNya sejak zaman dahulu kala. Terpujilah Allah kita senantiasa. Amen.

 

(bersambung ke part 4)

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Related post
Kapan Tuhan Tidak Menjawab Doa? Inilah 3 Alasan Paling Umum Yang Perlu Anda Tahu!

togarsianturi

30 Jan 2026

Banyak orang percaya bergumul dengan pertanyaan yang sangat menyakitkan: “Mengapa Tuhan tidak menjawab doa saya?” Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, berpuasa, bahkan mungkin menangis di hadapan-Nya, namun jawaban yang dinanti tak kunjung tiba. Rasa kecewa, ragu, bahkan marah bisa menyelinap masuk dan mengikis iman kita. Apakah Tuhan tidak mendengar? Apakah Ia tidak peduli? Atau adakah …

Lelah & Ingin Menyerah? Simak Pesan Tuhan untuk Pulihkan Anda

togarsianturi

29 Jan 2026

Ada momen dalam hidup di mana kata-kata “aku tidak sanggup lagi” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan jujur dari jiwa yang sudah melampaui batas kekuatannya. Kelelahan batin sering kali mendistorsi cara kita melihat diri sendiri, masa depan, dan bahkan cara kita memandang kasih Tuhan. Kita merasa kosong, hampa, dan kehilangan identitas, persis seperti yang dialami oleh …

Baca Alkitab Tapi Gak Ngerti? Ini Rahasia Cara Belajarnya

togarsianturi

28 Jan 2026

Banyak orang Kristen menyimpan rahasia kecil di dalam hati mereka: mereka sering membuka Alkitab dengan harapan besar, namun menutupnya kembali dengan rasa bingung dan kecewa. Masalahnya bukan karena Anda kurang pintar atau kurang rohani, melainkan karena kebanyakan dari kita tidak pernah diajarkan “cetak biru” cara mempelajarinya dengan benar. Alkitab bukanlah buku yang sekadar untuk dibaca …

Stop Mengeluh! Ini Cara Alkitabiah Ubah Nasib 90 Hari

togarsianturi

27 Jan 2026

Banyak orang Kristen berdoa meminta perubahan hidup tetapi tetap melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa ada kemajuan. Kita sering kali menunggu “tongkat ajaib” Tuhan bekerja sementara kita sendiri terjebak dalam keluhan dan keputusasaan yang melelahkan. Padahal, Tuhan sering kali bekerja melalui ketaatan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten di dalam iman. Mari kita …

3 Rahasia Tetap Konsisten Saat Teduh di Tengah Kesibukan

togarsianturi

26 Jan 2026

Banyak pria Kristen mengawali minggu dengan semangat membara untuk lebih dekat dengan Tuhan, namun sering kali layu di tengah jalan karena kesibukan. Rasa bersalah muncul saat kita melewatkan satu hari, dan akhirnya kita menyerah sama sekali karena merasa tidak akan pernah bisa konsisten. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kasih kita kepada Tuhan, melainkan kurangnya sistem yang …

Cek Imanmu! 4 Tanda Anda Sudah Dewasa Secara Rohani

togarsianturi

25 Jan 2026

  Kita semua memulai perjalanan iman sebagai bayi rohani yang hanya fokus pada kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri. Namun, tujuan Tuhan bagi setiap kita adalah untuk bertumbuh, matang, dan menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Kedewasaan rohani bukanlah tentang berapa lama Anda sudah menjadi Kristen, melainkan tentang transformasi hati yang menghasilkan buah-buah Roh yang …