
Kebenaran Pembicara Pertama
Setiap persoalan memiliki beberapa sisi yang berbeda. Setiap orang biasanya melihat dari sisi mereka, sehingga argumentasi dan emosi mereka menjadi berbeda dengan orang yang melihat sisi yang lain. Itu kenapa dua pihak bisa menjadi konflik, karena mereka masing-masing melihat dari sisi yang berbeda.
Penulis Amsal sudah mengetahui itu sejak tiga ribu tahun yang lalu. Maka ia telah menuliskan prinsip yang sangat penting, yang bahkan orang-orang dari generasi sekarang ini masih harus serius mempelajarinya.
Pembicara pertama dalam suatu pertikaian nampaknya benar, lalu datanglah orang lain dan menyelidiki perkaranya. (Amsal 18:17)
Prinsip hukum di Indonesia, “azas praduga tak bersalah” adalah kebenaran yang terkandung dalam nats di atas. Petugas hukum harus bijak untuk menganalisa segala sesuatu, tetapi ia tidak akan memutuskan seseorang bersalah hanya berdasarkan keterangan pelapor. Untuk menetapkan tersangka saja, masih jauh dari vonis bersalah, petugas hukum mesti mengantongi minimal dua alat bukti.
Adalah sebuah keistimewaan (privilege) untuk membantu mengkonseling orang lain. Lebih istimewa lagi apabila seseorang mampu menyelesaikan setiap konflik dalam hidupnya secara memuaskan. Inilah yang akan memuliakan Allah dan menguatkan umatNya sehingga Kerajaan Allah berkuasa luar biasa di dunia ini.
1. Hargai dan empati terhadap curhat orang pertama, tetapi jangan terikut dengannya.
Seseorang tidak bisa menjadi konselor jika ia bersifat tendensius. Orang tendensius tak bisa menyelesaikan perkara. Bahkan ia sendiri akan menjadi orang yang sulit untuk menyelesaikan konflik ketika ia yang terjatuh ke dalamnya. Orang seperti ini terlalu yakin akan kebenarannya, ia buta terhadap sisi lain dari perkara itu.
Tetapi seorang pendengar yang baik pasti memiliki sikap empati yang baik. Untuk dapat memahami apa yang orang itu benar-benar rasakan, haruslah ikut ke dalam sepatu orang itu. Ikut bukan untuk menjadi sekutu yang bersekongkol dengannya tetapi untuk mengerti situasi emosi orang itu.
2. Pembicara pertama, umumnya, hanya memberitahu kebenarannya. Pihak manapun selalu memiliki ‘good reason’.
Tidak selalu karena orang ini jahat dan ingin memfitnah pihak lain yang membuatnya merasa paling benar, tetapi bisa juga karena ia sudah terjatuh begitu dalam kepada rasa sakit yang menyempitkan pikiran rasional-nya. Data lain menjadi kabur baginya, hanya pikiran dan datanya sendiri yang jelas.
Tidak ada manusia yang tidak memiliki ‘good reason’ (alasan baik mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan). Good reason itu tidak selalu benar, tetapi itu valid (sah) bagi dirinya. Valid tidak berarti harus benar. Orang yang tidak mengerti akan good reason ini akan beranggapan pihak kedua sebagai pihak yang kehilangan akal sehatnya atau sudah sangat jahat.
Pendengar pihak pertama mesti selalu ingat bahwa pihak kedua di seberang sana juga pasti memiliki alasan baik atas tindakan atau perkataannya. Sebab ketika pihak kedua datang, melalui penjelasannya ia akan membuat si pendengar ini berbalik menyalahkan pihak pertama tadi.
3. Masalah selesai dengan baik ketika kedua belah pihak mau pergi ke sisi pihak lain dan merasakan sepatu orang yang bersangkutan.
Untuk mau berpindah ke sisi pihak sebelah memang membutuhkan kerendahan hati. Orang yang terlanjur sangat sakit hati biasanya enggan melakukan itu, menganggapnya sebagai tindakan mubazir. Padahal hanya itu solusi untuk konfliknya. Orang yang tidak mengambil solusi itu akan hancur oleh konflik.
Setiap orang mestinya dapat menyadari bahwa ada musuh yang terus berusaha mengadu domba mereka sehingga rancangan Allah urung terjadi atas hidup mereka. Musuh itu memprovokasi dan sangat ahli memperdalam luka dalam hati orang yang sedang konflik.
Para pihak seharusnya juga mau tenang memikirkan apakah kerugian yang ia akan alami jika terus mempertahankan ‘kebenaran’nya dan apa untungnya jika ia merendahkan hati untuk menyelesaikannya!
Bapa, beri kami hati yang penuh kasih untuk memahami orang lain, tetapi beri kami kebijaksanaan juga untuk memahami duduk persoalan sebenarnya serta hikmat dan kerendahan hati untuk menyelesaikannya. Amen.
togarsianturi
30 Jan 2026
Banyak orang percaya bergumul dengan pertanyaan yang sangat menyakitkan: “Mengapa Tuhan tidak menjawab doa saya?” Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, berpuasa, bahkan mungkin menangis di hadapan-Nya, namun jawaban yang dinanti tak kunjung tiba. Rasa kecewa, ragu, bahkan marah bisa menyelinap masuk dan mengikis iman kita. Apakah Tuhan tidak mendengar? Apakah Ia tidak peduli? Atau adakah …
togarsianturi
29 Jan 2026
Ada momen dalam hidup di mana kata-kata “aku tidak sanggup lagi” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan jujur dari jiwa yang sudah melampaui batas kekuatannya. Kelelahan batin sering kali mendistorsi cara kita melihat diri sendiri, masa depan, dan bahkan cara kita memandang kasih Tuhan. Kita merasa kosong, hampa, dan kehilangan identitas, persis seperti yang dialami oleh …
togarsianturi
28 Jan 2026
Banyak orang Kristen menyimpan rahasia kecil di dalam hati mereka: mereka sering membuka Alkitab dengan harapan besar, namun menutupnya kembali dengan rasa bingung dan kecewa. Masalahnya bukan karena Anda kurang pintar atau kurang rohani, melainkan karena kebanyakan dari kita tidak pernah diajarkan “cetak biru” cara mempelajarinya dengan benar. Alkitab bukanlah buku yang sekadar untuk dibaca …
togarsianturi
27 Jan 2026
Banyak orang Kristen berdoa meminta perubahan hidup tetapi tetap melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa ada kemajuan. Kita sering kali menunggu “tongkat ajaib” Tuhan bekerja sementara kita sendiri terjebak dalam keluhan dan keputusasaan yang melelahkan. Padahal, Tuhan sering kali bekerja melalui ketaatan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten di dalam iman. Mari kita …
togarsianturi
26 Jan 2026
Banyak pria Kristen mengawali minggu dengan semangat membara untuk lebih dekat dengan Tuhan, namun sering kali layu di tengah jalan karena kesibukan. Rasa bersalah muncul saat kita melewatkan satu hari, dan akhirnya kita menyerah sama sekali karena merasa tidak akan pernah bisa konsisten. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kasih kita kepada Tuhan, melainkan kurangnya sistem yang …
togarsianturi
25 Jan 2026
Kita semua memulai perjalanan iman sebagai bayi rohani yang hanya fokus pada kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri. Namun, tujuan Tuhan bagi setiap kita adalah untuk bertumbuh, matang, dan menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Kedewasaan rohani bukanlah tentang berapa lama Anda sudah menjadi Kristen, melainkan tentang transformasi hati yang menghasilkan buah-buah Roh yang …
31 Oct 2018 1.698 views
Kita memiliki empat Injil dalam Perjanjian Baru, Allah dengan sengaja memasukkannya ke dalam Kitab kanonik kita, yakni: 1. Matius 2. Markus 3. Lukas 4. Yohanes Injil Sinoptik Tiga dari empat Injil itu disebut sinoptik: Matius, Markus, Lukas. Sinoptik berasal dari dua kata, sin = sama, optic = cara pandang. Artinya ketiga Injil ini melihat …
29 Mar 2019 1.531 views
Inilah damai sejahtera yang sejati itu, yakni bahwa sang Raja Damai datang mendamaikan manusia berdosa, yang dulu adalah seteru Allah sehingga kini menjadi sekutu. Jadi damai sejahtera terutama kaitannya bukan dengan suasana atau perasaan, melainkan dengan penebusan dan pemulihan hubungan (rekonsiliasi). Dengan dosa, kita memberontak dan memusuhi Allah, kita hidup jauh dariNya. Maka satu-satunya …
19 Oct 2018 1.443 views
Tidak akan ada damai di antara negara, jika tidak ada damai di negara, tidak ada damai dalam negara jika tidak ada damai dalam orang-orangnya, tidak ada damai dalam orang-orang jika orang-orang tidak menyerahkan hidupnya ke tangan si Raja Damai. Benar sekali apa yang Heyden Robinson, penulis buku Salt And Light, ungkapkan dalam kutipan di atas. …
24 Jul 2019 1.324 views
Seorang teman yang berdagang di pasar pernah berkata begini kepada saya, “Saya mana bisa untung kalau jujur-jujur!” Benar-benar kalimat yang membuat saya tercenung. Sebegitu kelam-kah sistem perdagangan sehingga cara untuk sukses adalah dengan berbuat dosa? Tidakkah kita bisa saling menguntungkan dengan cara yang jujur? Begitu juga pembeli berbuat munafik ketika menawar barang, ia menekan …
17 Jul 2019 1.273 views
Menurut tradisi rabinik Yahudi (Babylonian Talmud) Amos, ayah Yesaya, adalah anak dari raja Yoas dan saudara dari raja Amazia. Sedangkan dalam Alkitab jelas raja Uzia adalah anak Amazia dan cucu dari raja Yoas. Jika benar demikian maka Yesaya adalah sepupu raja Uzia, hal ini menjelaskan mengapa Yesaya bebas berada di istana raja dan sangat fasih …
27 Jun 2019 1.235 views
Amsal banyak membantu orang percaya mengerti sifat alami dari godaan dan tipu muslihat dosa. Termasuk bagaimana sang Penulis mempersonifikasikan godaan dunia ini sebagai seorang perempuan jalang. Karena bibir perempuan jalang menitikkan tetesan madu dan langit-langit mulutnya lebih licin dari pada minyak, 4 tetapi kemudian ia pahit seperti empedu, dan tajam seperti pedang bermata dua. …
28 Nov 2020 1.153 views
Usai pembicaraan poin sebelumnya dengan oppung, saya memastikan lagi apakah oppung dapat memahami pembicaraan kami atau ada yang hendak ditanyakan. Oppung menceritakan perasaan sukacitanya dengan pemahaman itu dan tidak ada pertanyaan. Lalu saya bertanya siapakah Yesus itu dalam iman oppung sekarang. Oppung yakin bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat baginya. Karena itu saya tuntun …
Comments are not available at the moment.