Home » Bible » Devotionals » Manfaat Besar Mengendalikan Hidup Sendiri

Manfaat Besar Mengendalikan Hidup Sendiri

togarsianturi 01 Dec 2016 333


Mengacungkan telunjuk ketika ditanya oleh guru adalah pertanda baik, anak pintar. Tetapi mengacungkan telunjuk kepada orang lain ketika satu persoalan mengemuka bisa menjadi sikap kurang terpandang, tidak bertanggungjawab. Mengancungkan telunjuk itu bisa baik atau buruk, tergantung arahnya ke mana dan apa maksudnya. Tahukah Anda bahwa arah telunjuk yang salah dapat membunuh karakter dan masa depan orang lain, dan kita juga?

Selama saya dan isteri mengkonseling pasangan-pasangan menikah, kami menemukan pasangan yang selalu mengacungkan telunjuknya sembari menyalahkan pasangannya tak akan pernah bisa bertumbuh dalam pernikahannya. Pernikahan itu tidak dapat mencapai apa yang menjadi tujuan awalnya mendirikan pernikahan itu sendiri. Begitu juga dengan orang yang tak pernah merasa salah, selalu menyalahkan orang lain, orang seperti itu tak akan bisa keluar dari kelemahannya. Oh, tunggu dulu, bahkan orang seperti itu tidak merasa kalau dirinya memiliki kelemahan.

Dengan menuding orang lain, tak perduli sebagus apa pemaparan argumennya, berarti kita sudah menyerahkan kendali atas hidup kepada orang itu. Remote yang menggerakkan kita tidak ada di tangan kita, orang lain yang punya kuasa untuk menentukan kita menjadi apa saja. Dan apa sajapun yang terjadi kepada kita sekarang, itu adalah karena hal-hal eksternal kita, kita sama sekali tidak bertanggungjawab. Tetapi coba renungkan dalam hati, masakan kita mengijinkan orang-orang itu mengobok-obok hidup kita hingga tak berbentuk?

Mari, Bung, rebut kembali remote atas hidup kita. Dua ribu tahun lalu, Simon Petrus menuliskan begini, “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.  Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.” Dalam hidup kita mesti bersifat aktif, tidak pasif atau sekedar reaktif. Mengambil tanggungjawab itu bisa menimbulkan kesakitan, itu benar. Tetapi apakah kita lebih suka rasa sakit untuk berubah atau kesakitan karena tidak pernah berubah? Tidakkah kita lebih rela sakit setahun dua tahun dalam pembentukan atau sakit puluhan tahun karena gagal bertumbuh?

Masa-masa yang selalu saya tunggu dari setiap sesi konseling yang menjadi moment of truth adalah ketika seseorang berkata, “Saya baru benar-benar klik. Selama ini sudah sering saya dengar, tetapi baru sekarang saya bisa merasa seratus persen memang saya yang mesti berubah, bukan isteri saya, bukan orang lain.” Orang dengan statemen seperti itu sudah siap untuk terobosan dalam hidupnya. Orang itu akan melihat hari-hari baik dalam hidupnya. Orang itu akan melihat bahwa isterinya atau suaminya adalah seorang baik yang bijaksana. Ia akan memiliki banyak rencana untuk pengembangan dirinya, ia menjadi kurang mengoreksi orang lain, dan lebih fokus mengevaluasi dirinya sendiri.

Mulailah hari ini untuk memeriksa pada siapa saja kita telah menitipkan remote hidup kita selama ini. Mereka itu adalah orang yang sering kita salahkan, kita mengklaim gara-gara mereka maka kita seperti ini. Mereka itu orang-orang yang sering memicu kelemahan kita. Ambillah remote kita dari tangan atau dari perkataan mereka, dari tatapan mata atau cibiran mulut mereka. Dan mulai hari ini, katakanlah “Tuhan memberiku tanggungjawab atas hidupku! Aku yang bertanggungjawab sekarang!”

Comments are not available at the moment.

Leave a Reply

Related post
Kapan Tuhan Tidak Menjawab Doa? Inilah 3 Alasan Paling Umum Yang Perlu Anda Tahu!

togarsianturi

30 Jan 2026

Banyak orang percaya bergumul dengan pertanyaan yang sangat menyakitkan: “Mengapa Tuhan tidak menjawab doa saya?” Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, berpuasa, bahkan mungkin menangis di hadapan-Nya, namun jawaban yang dinanti tak kunjung tiba. Rasa kecewa, ragu, bahkan marah bisa menyelinap masuk dan mengikis iman kita. Apakah Tuhan tidak mendengar? Apakah Ia tidak peduli? Atau adakah …

Lelah & Ingin Menyerah? Simak Pesan Tuhan untuk Pulihkan Anda

togarsianturi

29 Jan 2026

Ada momen dalam hidup di mana kata-kata “aku tidak sanggup lagi” bukan sekadar keluhan, melainkan jeritan jujur dari jiwa yang sudah melampaui batas kekuatannya. Kelelahan batin sering kali mendistorsi cara kita melihat diri sendiri, masa depan, dan bahkan cara kita memandang kasih Tuhan. Kita merasa kosong, hampa, dan kehilangan identitas, persis seperti yang dialami oleh …

Baca Alkitab Tapi Gak Ngerti? Ini Rahasia Cara Belajarnya

togarsianturi

28 Jan 2026

Banyak orang Kristen menyimpan rahasia kecil di dalam hati mereka: mereka sering membuka Alkitab dengan harapan besar, namun menutupnya kembali dengan rasa bingung dan kecewa. Masalahnya bukan karena Anda kurang pintar atau kurang rohani, melainkan karena kebanyakan dari kita tidak pernah diajarkan “cetak biru” cara mempelajarinya dengan benar. Alkitab bukanlah buku yang sekadar untuk dibaca …

Stop Mengeluh! Ini Cara Alkitabiah Ubah Nasib 90 Hari

togarsianturi

27 Jan 2026

Banyak orang Kristen berdoa meminta perubahan hidup tetapi tetap melakukan rutinitas yang sama setiap harinya tanpa ada kemajuan. Kita sering kali menunggu “tongkat ajaib” Tuhan bekerja sementara kita sendiri terjebak dalam keluhan dan keputusasaan yang melelahkan. Padahal, Tuhan sering kali bekerja melalui ketaatan kita untuk mengambil langkah-langkah kecil yang konsisten di dalam iman. Mari kita …

3 Rahasia Tetap Konsisten Saat Teduh di Tengah Kesibukan

togarsianturi

26 Jan 2026

Banyak pria Kristen mengawali minggu dengan semangat membara untuk lebih dekat dengan Tuhan, namun sering kali layu di tengah jalan karena kesibukan. Rasa bersalah muncul saat kita melewatkan satu hari, dan akhirnya kita menyerah sama sekali karena merasa tidak akan pernah bisa konsisten. Masalah utamanya bukanlah kurangnya kasih kita kepada Tuhan, melainkan kurangnya sistem yang …

Cek Imanmu! 4 Tanda Anda Sudah Dewasa Secara Rohani

togarsianturi

25 Jan 2026

  Kita semua memulai perjalanan iman sebagai bayi rohani yang hanya fokus pada kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri. Namun, tujuan Tuhan bagi setiap kita adalah untuk bertumbuh, matang, dan menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Kedewasaan rohani bukanlah tentang berapa lama Anda sudah menjadi Kristen, melainkan tentang transformasi hati yang menghasilkan buah-buah Roh yang …