3 Prinsip Bisnis Orang Percaya

Seorang teman yang berdagang di pasar pernah berkata begini kepada saya, “Saya mana bisa untung kalau jujur-jujur!” Benar-benar kalimat yang membuat saya tercenung. Sebegitu kelam-kah sistem perdagangan sehingga cara untuk sukses adalah dengan berbuat dosa? Tidakkah kita bisa saling menguntungkan dengan cara yang jujur? Begitu juga pembeli berbuat munafik ketika menawar barang, ia menekan sekuat mungkin untuk mendapat harga semurah-murahnya.

Ternyata kelakuan seperti itu bukan baru juga, bukan juga hanya di satu daerah tertentu. Tiga ribu tahun lalu, penulis Amsal sudah mengamatinya di pasar-pasar mereka sehingga ia menuliskan kalimat berikut:

“Barang ini sama sekali tidak berharga,” kata si pembeli sementara ia tawar-menawar. Tetapi setelah ia memperolehnya, ia menyombongkan diri karena telah mendapat barang dengan harga murah. (Amsal 20:14 FAYH)

Saya tidak bisa menahan gelak tawa membaca nats di atas. Saya familiar sekali dengan sikap pembeli seperti itu. Orang-orang sepertinya begitu bangga kalau ia berhasil menipu atau memanipulasi pihak lain. Mereka bisa pongah atas besarnya untung yang mereka raup dari transkasi tertentu dengan orang lain. Namun, bukankah model ini sangat tidak sehat? Jika pembeli kita terus menerus merugi, bukankah kita akan kehilangan pelanggan nantinya?

Bukankah lebih indah pula jika kita saling menguntungkan dan saling membangun satu dengan yang lain? Kalau melihat faktanya, ternyata bukan dunia politik saja yang kotor tetapi dunia perdagangan bisa lebih brutal. Pedagang yang jujur dan adil sebenarnya akan menghasilkan lebih banyak sahabat dan hubungan-hubungan yang saling menguntungkan.

Lebih daripada itu bisnis orang Kristen adalah tempat untuk mempraktekkan nilai-nilai sorgawi. Bisnis itu menjadi terang bagi dunia. Kemudian bisnis adalah tempat di mana kita menjadikan murid, di sanalah kita mengerjakan amanat agung Tuhan Yesus. Orang Kristen tidak boleh memisahkan dunia bisnis mereka dari Kerajaan Allah. Kerajaan Allah mesti memerintah bisnis di dunia ini.

1. Prinsip Adil

Dua macam batu timbangan, dua macam takaran, kedua-duanya adalah kekejian bagi TUHAN. (Amsal 20:10)

Orang itu menguras untung dari pembeliannya dan juga penjualannya. Ketika membeli ia melebihkan timbangan dengan batu yang satu, tetapi ketika menjual ia memakai batu yang lain untuk mengurangi timbangan. Betapa licik dan tidak jujurnya. Orang Kristen mengambil untung yang pantas dari usaha mereka.

Usaha pasti harus ada untung. Tetapi orang yang ingin cepat kaya, lebih suka mengambil untung sebesar-besarnya tanpa memerdulikan kesehatan pasar. Bahkan tidak sedikit spekulan yang sengaja mengotori pasar agar mereka menyedot semua keuntungan hingga tetes terakhir.

Padahal aroma-aroma perbuatan-perbuatan serupa itu jelas-jelas berbau amoral dan tidak adil.
Mengambil keuntungan yang pantas membuat reputasi seseorang harum, ia juga pasti dikenan oleh Allah. Para ahli juga sudah tidak memakai prinsip ekonomi yang dulu diajarkan, “Dengan modal sekecil kecilnya mendapatkan untung sebesar besarnya.” Ini lebih cenderung kepada ambisius dan egois. Bawalah prinsip win-win ke dalam seluruh aspek hidup kita, termasuk ketika berdagang, menjual atau membeli.

2. Prinsip Jujur

Anak-anak pun sudah dapat dikenal dari pada perbuatannya, apakah bersih dan jujur kelakuannya. (Amsal 20:11)

Tidak benar bahwa cara untuk mendapat untung adalah dengan berbohong dan menipu. Tidak benar juga bahwa orang jujur akan mati terbujur, Allah ada dan Dia dalam kendali atas segala sesuatu. Sesungguhnya Allah yang memberikan kelimpahan pada mereka yang berlaku jujur, dan yang menjaga hal-hal dari orang-orang curang. Jujur membayar pajak dan segala kewajiban kita, karena Allah memerintahkan demikian.

Allah yang mengangkat dan menurunkan para raja dan pemimpin dunia sesuai kehendakNya. Dia bisa memakai siapa saja dan keadaan apa saja untuk membuat rencanaNya terjadi. Jika demikian, masakan kita lebih percaya pada argumentasi pelaku pasar dari pada firman Pencipta segala sesuatu? Setiap hari sorga mencari orang-orang jujur untuk diberkati, jadilah salah satunya!

3. Prinsip Tanggungjawab

Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa.(Amsal 20:4)

Hidup, bisnis dan semua yang Allah percayakan pada kita adalah tanggungjawab kita. Karena itu kita mesti menjadi pelaku bisnis yang penuh tanggungjawab. Itu berarti kita memenuhi janji-janji bisnis tepat pada waktunya, kita bekerja keras dan tidak bermalas-malasan.

Apabila kita adil, jujur, dan penuh tanggungjawab dalam berbisnis maka terang kita akan tampak mencolok dan kemuliaan Allah dinyatakan di market place. Inilah penginjilan dari para pelaku pasar, dengan hidup demikianlah maka kesaksian mereka menjadi powerful.

Bapa, kiranya karakter Kristus benar-benar memenuhi market place. Jadikan pebisnis Kristen impactful, yang dimulai dengan adil, jujur, dan tanggungjawab nyata dalam karakter kami semua. Amen.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *